Sambutan Manchester City di Anfield berlangsung jauh dari kata bersahabat. Ribuan suporter Liverpool telah memadati jalanan di sekitar stadion jauh sebelum kick-off, membawa kembang api dan melontarkan cemoohan ke arah rombongan tim tamu. Setiap titik pandang dimanfaatkan, sebagian orang bahkan nekat berdiri di atas tembok demi melihat kedatangan musuh bebuyutan mereka — walau akhirnya bus City masuk melalui sisi lain stadion untuk menghindari bentrokan langsung.
Manuver tersebut disebut mampu meredam situasi yang berpotensi berubah menjadi kerusuhan. Ketegangan di Merseyside memang sedang memuncak: sejak Manchester City diambil alih pada 2008, Liverpool tiga kali harus puas finis di posisi kedua di bawah rivalnya itu, dan satu di antaranya berada dalam rentang penyelidikan atas dugaan pelanggaran aturan finansial Premier League. Suporter Liverpool merasa dirugikan, karena mereka yakin bisa meraih lebih banyak trofi andai City tidak “memutar” aturan demi mendatangkan pemain-pemain kelas atas.

Bus City Masuk Lewat Jalur Alternatif di Tengah Ketegangan
Rencana kedatangan skuad City menjadi perhatian tersendiri di luar stadion. Polisi menerbangkan drone di atas rute yang semula diperkirakan akan dilalui bus tim, sementara petugas berjalan mondar-mandir merekam kerumunan ketika desibel dan amarah penonton terus meningkat. Setiap kendaraan yang melintas dicurigai, dan teori soal siasat rahasia dari pihak City kembali diperbincangkan — bukan untuk pertama kalinya.
Isu soal upaya menyelundupkan pemain dan staf ke dalam stadion ramai dibicarakan di tengah kerumunan, tetapi tidak ada “kuda Troya” yang benar-benar muncul. Yang akhirnya datang justru bus resmi tim dengan livery lengkap, melintas dari sisi lain Anfield Road dan memutar ke bagian belakang tribun yang menyandang nama stadion itu. Strategi itu membuyarkan potensi konfrontasi yang bisa berubah menjadi kerusuhan besar.
Pengalihan rute bukan tanpa alasan. Pada 2018, Liverpool pernah dihukum setelah suporter mereka melemparkan benda ke arah bus tim City yang sedang membawa para pemain menuju Anfield untuk laga Liga Champions. Kebencian yang sudah lama membara kini semakin dipicu oleh putusan bersalah dari komisi independen.
Spanduk “Guilty 114”, Banner Curang, dan Dagangan Protes
Jejak kemarahan itu mudah ditemukan di lapak-lapak di sekitar stadion. Dengan harga 15 poundsterling — yang bisa turun menjadi 10 poundsterling setelah ditawar — penggemar bisa membeli bendera bertuliskan “Guilty 114”, lengkap dengan gambar hasil kecerdasan buatan yang menampilkan skuad City mengenakan seragam tahanan. Ada pula spanduk bertema “Cheats” atau “Curang” dengan gaya logo Oasis.
Sebagian suporter lain justru memilih cara yang lebih tradisional, meski sering dicemooh, yakni syal setengah-setengah atau half and half scarf untuk menandai momen bersejarah tersebut. Yang lebih memperhatikan gaya bisa membeli kaus dengan motif serupa. Sementara itu, ada pula penawaran yang jauh lebih hemat berupa spanduk buatan sendiri dengan pesan blak-blakan yang diarak di sekitar stadion.
Ada rasa ketidakadilan yang ingin disampaikan ribuan orang, dan mereka mencari berbagai cara untuk mengekspresikannya. Di tengah lautan merah itu berdiri satu suporter City yang mengenakan warna biru langit. Ia tampak tidak terusik oleh keramaian di sekelilingnya, dan dibiarkan begitu saja karena dianggap tidak memiliki kesalahan atas apa yang terjadi.
Akar Kemarahan Suporter Liverpool dan Vonis Komisi Independen
Permasalahan ini bukan sekadar soal persaingan di lapangan. Sejak investasi besar masuk ke Manchester City pada 2008, Liverpool berkali-kali harus berpuas diri di posisi runner-up di belakang The Citizens. Dari tiga kali kejadian itu, hanya satu yang berada dalam cakupan penyelidikan atas dugaan pelanggaran aturan finansial Premier League.
Bagi banyak pendukung Liverpool, selisih tipis dalam perebutan gelar terasa begitu menyakitkan karena mereka percaya City membangun kekuatan dengan cara yang tidak seharusnya. Mereka menilai aturan dilangkahi demi merekrut pemain-pemain terbaik, sesuatu yang mengubah peta persaingan di liga. Putusan komisi independen yang menyatakan City bersalah pun dianggap sebagai pembenaran atas kemarahan yang selama ini mereka pendam.
Di sisi lain, kubu City memiliki cara pandang sendiri. Klub mereka sudah berdiri selama 114 tahun sebelum investasi Sheikh Mansour masuk, dan akan tetap ada apa pun yang terjadi terkait potensi sanksi. Banyak penggemar City telah menyaksikan timnya terpuruk hingga kasta ketiga, sekaligus meraih Liga Champions — dua ujung spektrum yang sudah mereka alami.
Sepanjang Jalan ke Anfield: Drone, Polisi, dan Nyanyian Kedua Kubu
Bus Liverpool tiba di stadion dengan sorakan, nyanyian, dan kepulan asap merah tak lama sebelum pukul tiga sore. Mata terasa perih saat angin membawa asap ke arah kerumunan, dan kehadiran polisi semakin rapat menjelang perkiraan waktu kedatangan bus tim tamu. Aparat sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk setelah ramai pembicaraan di media sosial bahwa City “layak” mendapat sambutan khusus di Anfield Road.
Sekitar satu jam sebelum kick-off, setelah bus City dikawal ketat menuju stadion, suporter tamu mendapat pengawalan tersendiri melintasi Stanley Park. Pesan mereka tegas: mendukung ketua klub Khaldoon al-Mubarak sambil menyanyikan “We’re Man City, we’ll cheat when we want”. Ada cemoohan ringan dari pendukung tuan rumah yang mendengar, tetapi seperti halnya bus tim, semuanya berlalu tanpa insiden.
Di sisi lain, suporter City juga melontarkan nyanyian favorit mereka, “City’s going down with a billion in the bank”, sambil mengibarkan pisang tiup — tradisi yang sudah ada sejak dekade 1980-an. Sorak dan cemoohan berlanjut sementara fans tamu menunggu masuk ke stadion, namun secara keseluruhan itu masih tergolong hal biasa dalam pertemuan dua rival besar. Ketegangan perlahan mereda.
City Menang 3-0, Masa Depan Masih Kabur
Ketika para pemain City masuk ke lapangan untuk pemanasan, mereka disambut cemoohan keras dari mayoritas penonton di dalam stadion. Setiap nama pemain yang disebut melalui sistem pengumuman publik mendapat perlakuan serupa. City hanya bisa menghibur diri dengan pemandangan pisang tiup yang bergoyang di sudut kecil tribune suporter tamu, sebelum sepak bola akhirnya kembali menjadi pusat perhatian.
Di atas lapangan, City justru tertawa terakhir. Mereka menang 3-0, membungkam pendukung tuan rumah, sekaligus mempertahankan posisi di puncak klasemen Premier League. Hasil itu menjadi jawaban paling gamblang atas segala tekanan yang mereka terima sebelum pertandingan dimulai.
Namun berapa lama City bertahan di puncak klasemen — atau bahkan tetap berada di kompetisi ini — masih menjadi tanda tanya besar. Semua bergantung pada hukuman yang nantinya dijalani klub, sebuah ketidakpastian yang membuat setiap pertandingan mereka terasa berlangsung di bawah bayang-bayang sanksi.
Yang terjadi di Anfield menunjukkan bahwa persaingan di lapangan kini tak bisa lagi dipisahkan dari persoalan di luar lapangan. Suporter Liverpool memakai momen ini untuk menyuarakan rasa ketidakadilan yang mereka rasakan bertahun-tahun, sementara City berusaha membuktikan bahwa urusan di ruang sidang tidak boleh mengganggu performa mereka. Ketegangan sebelum kick-off akhirnya tidak meledak menjadi kerusuhan, tetapi luka lama antara kedua klub jelas masih terbuka.








