Kick It Out Catat Rekor Baru Laporan Diskriminasi Sepak Bola
Organisasi anti-diskriminasi sepak bola Kick It Out mengumumkan bahwa mereka menerima rekor baru sebanyak 1.744 laporan diskriminasi selama musim 2025/26. Angka ini menandai kenaikan 25 persen dibandingkan musim sebelumnya. Untuk pertama kalinya, jumlah insiden yang tercatat juga menembus angka 1.000, tepatnya mencapai 1.255 kejadian.
Peningkatan terjadi di semua lini sepak bola, baik profesional maupun akar rumput. Laporan dari sepak bola profesional naik 41 persen menjadi 636, sementara dari level akar rumput juga melonjak 41 persen ke angka 458. Di ranah online, laporan diskriminasi meningkat lima persen menjadi 650.
Ragam Diskriminasi: Rasisme Masih Dominan
Rasisme tetap menjadi bentuk diskriminasi yang paling banyak dilaporkan, dengan total 792 laporan — setara 45 persen dari seluruh kasus. Namun, laporan terkait seksisme, homofobia, antisemitisme, ableisme, dan Islamofobia juga mencapai rekor tertinggi sejak Kick It Out memperluas data pelaporannya lima tahun lalu.
Data menunjukkan peningkatan signifikan pada beberapa kategori diskriminasi:
- Nyanyian kelompok diskriminatif melonjak 41 persen.
- Laporan yang mengandung ujaran anti-imigran meningkat dua kali lipat dibandingkan dua musim sebelumnya jika digabung.
- Pelecehan diskriminatif terhadap ofisial pertandingan naik drastis — 97 laporan setara total tiga musim sebelumnya. Lebih dari sepertiganya adalah pelecehan seksual terhadap wasit perempuan.
- Di sepak bola usia muda (U-18) terjadi kenaikan tahun kelima berturut-turut, mencapai rekor 248 laporan — naik sepertiga.
Seruan Aksi dari Kick It Out dan Premier League
Samuel Okafor, CEO Kick It Out, menyatakan bahwa angka-angka ini menunjukkan diskriminasi masih mengakar dalam sepak bola, di tengah meningkatnya ujaran kebencian dan retorika politik yang memecah belah di Inggris. Namun ia juga menekankan sisi positif: Orang-orang semakin berani melawan pelecehan. Pemain profesional telah memberi contoh yang baik musim lalu. Kami akan terus bekerja sama dengan otoritas sepak bola, klub, liga, regulator, dan pemerintah untuk memastikan keberanian melapor diimbangi dengan tindakan yang jelas dan konsisten, sehingga sepak bola menyambut semua kalangan.
Juru bicara Premier League menegaskan bahwa diskriminasi tidak bisa ditoleransi. Liga memiliki berbagai inisiatif seperti Program Pengamat Pertandingan, kampanye No Room For Racism, serta sumber daya untuk melacak dan menangani pelecehan online. Setiap insiden diskriminatif ditangani dengan tegas, termasuk larangan masuk stadion dan tuntutan hukum. Premier League juga bangga bekerja sama dengan Kick It Out untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua.
Komitmen Melawan Kebencian di Dunia Maya
Sky Sports berkomitmen menjadikan platform mereka bebas dari pelecehan, kebencian, dan kata-kata kasar. Jika Anda menemukan komentar bernada diskriminatif di media sosial Sky Sports, Anda dapat melaporkannya dengan menyalin URL dan tangkapan layar ke alamat email yang disediakan. Hate Won’t Win.
Kesimpulan: Meningkatnya Laporan Tanda Kesadaran dan Perlu Tindakan Nyata
Rekor laporan diskriminasi sepak bola musim lalu menjadi alarm sekaligus harapan. Di satu sisi, praktik buruk masih marak; di sisi lain, semakin banyak orang berani bersuara. Keberanian melapor harus diimbangi dengan sanksi tegas dan edukasi berkelanjutan agar sepak bola benar-benar menjadi olahraga yang inklusif bagi semua.
