Ayyoub Bouaddi: Si Jenius Matematika yang Menuju Man City

Written by

in

,

Manchester City dikabarkan telah mencapai kesepakatan secara prinsip dengan Lille untuk merekrut Ayyoub Bouaddi dengan nilai transfer 100 juta euro atau sekitar £86 juta. Gelandang berusia 18 tahun asal Maroko itu tampil menonjol bersama timnasnya di Piala Dunia dan menjadi salah satu pemain muda paling diburu di Eropa. Kabar ini sekaligus menegaskan bahwa Bouaddi siap melangkah ke panggung Premier League.

Bouaddi menghabiskan masa kecilnya di Creil, sebuah kota di wilayah utara Prancis, sebelum menembus tim utama Lille pada usia yang sangat muda. Ia sempat mewakili Prancis di berbagai kelompok usia muda, tetapi akhirnya memilih membela Maroko, negara asal keluarganya. Kombinasi bakat alami, kedisiplinan, dan kecerdasannya di lapangan membuat banyak pihak meyakini bahwa ia baru saja memulai perjalanan panjang menuju puncak karier.

Fakta Utama: Ayyoub Bouaddi dan Kesepakatan Man City

Kesepakatan antara Manchester City dan Lille secara prinsip sudah tercapai dengan nilai mencapai 100 juta euro. Jumlah tersebut mencerminkan betapa tingginya nilai jual Bouaddi di mata klub-klub elite Eropa. Apalagi Bouaddi masih berusia 18 tahun, sehingga seluruh potensi besarnya masih akan terus berkembang di bawah arahan pelatih.

Olivier Giroud, penyerang Lille yang pernah menjuarai Piala Dunia bersama Prancis, tidak ragu membandingkan Bouaddi dengan Kylian Mbappe. “Saya bermain dengan Kylian Mbappe ketika dia berusia 18 tahun. Dia sangat matang untuk usianya, dan saya merasakan hal yang sama dengan Ayyoub,” ujar Giroud. Perbandingan dengan pemain sekelas Mbappe tentu menjadi bukti betapa tingginya ekspektasi yang disematkan kepada Bouaddi.

Pernyataan tersebut memang terdengar berani. Namun, seorang orang dalam klub menyebut bahwa kebangkitan Bouaddi bukanlah hal baru. Mantan pelatihnya di Creil, Sofiane Khair, pun mengaku tidak terkejut dengan pencapaian pemain asuhannya itu. “Tidak ada yang terkejut di sini. Bagi kami, ini hal yang logis,” katanya.

Pilihan Besar: Maroko atau Prancis?

Bouaddi bukan hanya rebutan di level klub, melainkan juga di level tim nasional. Maroko dan Prancis sama-sama menginginkannya, dan Giroud bahkan mengaku terus menggoda Bouaddi sepanjang tahun agar memilih Les Bleus. Namun, Bouaddi akhirnya memilih jalan yang berbeda dan menyatakan kesetiaannya kepada Maroko.

Meskipun sempat membela Prancis di berbagai kelompok usia muda, Bouaddi selalu bangga dengan akar keluarganya di Maroko. Setelah memutuskan membela Maroko, ia mengunggah foto lama di Instagram yang memperlihatkan dirinya saat berusia 10 tahun mengenakan jersey Maroko di tribun Piala Dunia 2018. “Saya menyadari betapa istimewanya bisa membela warna-warna ini, dan saya akan memberikan segalanya untuk mewakili negara saya sebaik mungkin,” ujarnya.

Janji itu benar-benar ia buktikan di Piala Dunia ketika Maroko menjadi negara Afrika pertama yang mencapai perempat final secara beruntun. Mantan pemain timnas Maroko, Hassan Kachloul, memuji penampilan Bouaddi saat menghadapi pemain-pemain sekaliber Casemiro, Lucas Paqueta, dan Bruno Guimaraes. “Dia menunjukkan bukan hanya kualitas, tetapi juga kepribadian—semacam kepercayaan diri yang positif. Dia memiliki keyakinan, aura yang kuat, dan kehadiran yang solid di lapangan,” kata Kachloul kepada BBC Sport.

Rekor-Rekor yang Dipecahkan Ayyoub Bouaddi

Kemampuan Bouaddi tampil di panggung besar memang sudah terlihat sejak lama. Ia menjadi pemain termuda yang pernah tampil untuk Lille saat menjalani debut seniornya melawan KI tidak lama setelah berulang tahun ke-16 pada 2023. Sejak saat itu, sederet pencapaian impresif terus menghiasi perjalanan kariernya.

  • Debut senior untuk Lille melawan KI pada 2023, hanya beberapa hari setelah usianya menginjak 16 tahun.
  • Membantu Lille mengalahkan Real Madrid di Liga Champions tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-17.
  • Memecahkan rekor Eden Hazard setelah mencatatkan 50 penampilan Ligue 1 untuk Lille di usia 18 tahun.

Armand Doue, mantan pelatihnya di Creil, menegaskan bahwa performa Bouaddi di Piala Dunia bukanlah sesuatu yang mengejutkan. “Dia memainkan pertandingan seperti ini setiap akhir pekan di lapangan-lapangan Ligue 1,” ujarnya. Baginya, konsistensi Bouaddi adalah hal yang wajar mengingat dedikasi dan bakat yang dimilikinya sejak kecil.

Gaya Bermain dan Potensi ala Sergio Busquets

Jurnalis sepak bola asal Maroko, Amine el Amri, menilai Bouaddi berpotensi menjadi salah satu gelandang terbaik dalam sejarah permainan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa Bouaddi harus tetap rendah hati dan bekerja keras untuk mewujudkan potensi tersebut. “Sekilas, dia sangat mengingatkan saya pada Sergio Busquets. Dia sangat tinggi tetapi tidak terlalu berotot. Biasanya pemain dengan posisi enam atau delapan memiliki otot yang kuat,” jelas el Amri.

Yang membuat Bouaddi istimewa, menurut el Amri, adalah kemampuannya tetap tenang saat menguasai bola maupun saat menekan lawan. Ia juga jarang melakukan pelanggaran, sesuatu yang membuat Busquets menjadi gelandang yang sempurna. Di sisi lain, Giroud mengingatkan bahwa Bouaddi masih perlu meningkatkan beberapa aspek dalam permainannya.

Giroud menggambarkan Bouaddi sebagai rekan setim yang sempurna dan pemain box-to-box sejati. “Dia pemain box-to-box yang sesungguhnya, tetapi dia perlu meningkatkan beberapa hal, seperti penyelesaian akhirnya,” kata Giroud. Dengan bimbingan yang tepat di Manchester City, bukan tidak mungkin kekurangan tersebut akan segera teratasi.

Kepribadian: Matematika, Disiplin, dan Kebiasaan Sehat

Salah satu hal yang paling menonjol dari Bouaddi adalah kehausannya untuk terus berkembang. Diop menggambarkannya sebagai pemain yang selalu mempertanyakan dirinya sendiri karena ia seorang perfeksionis. Sifat yang sama juga langsung terlihat oleh pelatih Mickael Delestrez ketika Bouaddi naik ke tim U-17 Lille pada usia 15 tahun.

Delestrez mengenang bagaimana Bouaddi selalu bertanya tentang apa yang diharapkan darinya saat pertama kali bermain di kelompok usia yang lebih tinggi. Kemampuan analitisnya membuat ia terus mengevaluasi permainannya sendiri, mencari tahu apa yang bisa dilakukan lebih baik. Mentalitas seperti ini tergolong langka di usia semuda itu.

Di luar lapangan, Bouaddi juga menjalani hidup dengan disiplin tinggi. Ia tengah menempuh pendidikan di bidang matematika di waktu luangnya dan pernah memenangkan kompetisi pidato setelah tampil di Elysee Palace. Mantan pelatihnya, Sofiane Khair, mengungkapkan bahwa Bouaddi tidak memiliki PlayStation atau Nintendo DS saat kecil dan lebih memilih membaca buku atau mengerjakan pekerjaan rumah.

Kebiasaan sehat itu bahkan terbawa hingga ke pola makannya. “Dia juga tidak pernah makan makanan cepat saji. Saat kami pergi ke turnamen, dia adalah satu-satunya anak yang tidak makan burger atau pizza,” kenang Khair. “Dia sama sekarang seperti saat dia berusia 10 tahun.” Gaya hidup seperti inilah yang membuat Bouaddi