Di balik gemerlap Piala Dunia yang disponsori Aramco, ada kisah kelam dari Port Arthur, Texas. Kota kecil ini menjadi saksi bisu bagaimana kehadiran kilang minyak raksasa milik Aramco justru menyengsarakan warganya. Polusi udara, penyakit mematikan, dan kemiskinan merajalela, sementara logo Aramco terpampang megah di stadion-stadion sepak bola dunia.
Port Arthur: Kota yang Terlupakan di Bayang-Bayang Kilang Raksasa
Port Arthur adalah kota berpenduduk 55.000 jiwa di Texas, sekitar 160 km di timur Houston. Dari luar, mungkin terlihat seperti kawasan permukiman kelas bawah biasa. Namun, di balik perumahan kayu yang sederhana itu, ada ancaman nyata: Kilang Motiva, kilang minyak terbesar di Amerika Serikat menurut beberapa ukuran, dengan luas 3.600 hektar dan kapasitas produksi 654.000 barel minyak mentah per hari. Kilang ini sepenuhnya dimiliki oleh Aramco, perusahaan minyak asal Arab Saudi, sejak 2017.
Warga yang tinggal di West Side, kawasan yang dulu dipisahkan secara rasis hingga pertengahan 1960-an, hidup tepat di seberang pagar kilang. Mereka menyebutnya fence line community. Tidak ada taman bermain, tidak ada pusat perbelanjaan, hanya cerobong asap dan pipa-pipa baja yang menjulang. “Ini benar-benar tempat sialan,” ujar Greg Richard, warga yang sudah puluhan tahun tinggal di sini.
Polusi Udara dan Dampak Kesehatan yang Mencemaskan
Salah satu dampak paling nyata dari kehadiran kilang minyak adalah polusi udara. Emisi benzena—zat yang sangat karsinogenik—di Port Arthur termasuk yang tertinggi di Amerika Serikat. Selain itu, metana, karbon dioksida, hidrogen sulfida, dan sulfur dioksida juga rutin dilepaskan ke udara. Warga tidak punya perlindungan berarti.
Akibatnya, tingkat kanker di Port Arthur secara konsisten melampaui rata-rata negara bagian Texas. Menurut data, angka kematian akibat kanker pada komunitas kulit hitam di sini 40% lebih tinggi dibanding daerah lain di Texas. Tingkat asma pada anak-anak diperkirakan hampir dua kali lipat rata-rata nasional. “Saya punya banyak teman dan keluarga yang terkena penyakit aneh,” kata Jamal Johnson, warga setempat. Ia menyebut kakek, bibi, dan pamannya meninggal karena kanker atau penyakit saraf motorik.
Hilton Kelley, aktivis lingkungan yang besar di Port Arthur, mengingatkan bahwa dampak polusi sudah terlihat sejak kecil. “Di sekolah dasar, perawat bisa membuka lemari dan menunjukkan 30 hingga 40 nebuliser untuk anak-anak yang menjalani terapi pernapasan,” katanya. “Bayi pun harus menjalani perawatan pernapasan.”
Pelanggaran dan Denda yang Seperti “Kacang”
Meskipun ada badan pengawas lingkungan (EPA), pelanggaran emisi sering terjadi. Beberapa contoh:
- Tahun 2023, Motiva didenda sekitar £9.900 oleh regulator negara bagian karena pelepasan sulfur dioksida tanpa izin.
- Juli 2023, denda £43.000 untuk pelanggaran serupa yang lebih besar.
- Tahun 2022, Motiva dihukum £214.000—sebagian dihapus setelah mereka menerapkan perbaikan—karena kebocoran air terkontaminasi dari bendungan yang meluap.
- Maret lalu, ledakan di pabrik Valero (di samping Motiva) melepaskan lebih dari 157.000 pon bahan kimia ke udara selama 10 hari.
Bagi warga, denda itu tidak sebanding dengan penderitaan mereka. “Mereka seperti membunuh kita seumur hidup,” kata Charles, seorang tukang kayu yang merasa terjebak di kota ini.
Kemiskinan dan “Rasisme Lingkungan”
Port Arthur adalah kota termiskin di Texas pada 2021. Pendapatan rumah tangga rata-rata hanya £27.700 per tahun, dan nilai rumah rata-rata £49.800. Hampir 30% penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Ironisnya, kilang-kilang di sekitarnya—Motiva, Valero, Total—menghasilkan kekayaan luar biasa, tapi warga lokal tidak menikmatinya.
John Beard Jr., mantan pekerja kilang yang kini memimpin Port Arthur Community Action Network (Pacan), menyebut ini sebagai “rasisme lingkungan”. Rumah-rumah di West Side yang dibeli oleh keluarga kulit hitam saat segregasi kini tidak laku dijual karena lokasinya dekat kilang. “Karena polusi, nilai rumah turun £40.000 dari harga awal £100.000,” ujarnya. “Ada rumah yang sudah kosong hampir empat tahun.”
Banyak warga merasa Motiva sengaja memanfaatkan kerentanan ini untuk membeli properti dengan harga murah, mungkin untuk perluasan pabrik. “Mereka ingin kami pergi dari sini,” kata Jamal Johnson. “Mereka ingin tanah ini menjadi lahan kilang.”
Kaitan dengan Piala Dunia: Aramco dan FIFA di Mata Warga
Aramco menjadi sponsor utama FIFA pada 2024 dan merupakan penyandang dana eksklusif energi untuk Piala Dunia. Logo Aramco terpampang di papan iklan pinggir lapangan, layar stadion, dan “Aramco Arena” di Houston. Namun, di Port Arthur—hanya 160 km dari Houston—tidak ada gemerlap itu.
Lapangan sepak bola di Gulf Coast Youth Soccer Club kosong pada musim ini. “Di mana Aramco atau FIFA di lapangan sepak bola kami?” tanya John Beard. “Mereka tidak punya kehadiran sama sekali. Jika Anda begitu besar dalam sepak bola, mengapa tidak melakukan sesuatu di daerah tempat Anda memiliki kepentingan bisnis?”
Beard menantang FIFA untuk datang melihat langsung dampak operasi Aramco. “Sepak bola berkembang di sini, tapi kami tidak melihat mereka. Tidak ada promosi di komunitas yang terdampak di sepanjang pagar kilang. Ini seperti uang darah,” tegasnya.
Upaya Aktivis dan Harapan Perubahan
Hilton Kelley, yang memenangkan Goldman Prize (setara Nobel Lingkungan) atas perjuangannya, mengakui ada sedikit kemajuan. Motiva mulai merenovasi gedung-gedung tua di pusat kota yang nyaris roboh, termasuk Hotel Sabine yang angker. Kelley juga menilai polusi sudah berkurang 75% dibanding zaman Texaco dulu. “Tapi mereka masih bisa lebih baik,” katanya.
Sebaliknya, John Beard skeptis. “Ada perbaikan, tapi saya ibaratkan seperti minum setengah galon racun daripada satu galon. Mereka masih menyebarkan polusi itu. Harusnya mereka mengurangi polusi hingga nol.”
Aramco dan Motiva diwajibkan menaati kode sumber berkelanjutan FIFA, termasuk mengendalikan emisi gas rumah kaca dan pembuangan air limbah. Namun, FIFA tidak menjawab pertanyaan apakah Aramco mematuhi kode tersebut terkait aktivitas di Port Arthur. Warga hanya bisa menunggu dan berharap.
Kesimpulan: Belly of the Beast
Port Arthur adalah contoh nyata bagaimana kekuatan perusahaan minyak global bisa menghancurkan komunitas lokal. Di satu sisi, Piala Dunia menampilkan citra bersih dan gemerlap; di sisi lain, ada penderitaan yang terus berlangsung. “Kami berada di perut binatang buas,” kata John Beard. “Tidak ada alasan Port Arthur harus begini.” Tanpa perubahan fundamental dalam aktivitas perusahaan fosil dan hubungannya dengan warga, harapan tampak sulit diraih.
