Alasan Trump Sengaja Hindari Piala Dunia 2026: Taktik atau Ketakutan?

Written by

in

,

Trump dan Keheningan di Tengah Piala Dunia 2026

Pada 28 Juni lalu, pukul 16.38, Donald Trump kembali mengirimkan “Truth” di platform Truth Social. Tidak ada yang aneh dengan itu—unggahannya memang tak pernah berhenti dan selalu kontroversial. Namun, di antara rentetan cuitan bernada bombastis tentang lapangan golf yang buruk atau keluhan atas kasus pelecehan seksualnya, satu unggahan mencuri perhatian. Trump secara singkat memuji angka penonton Piala Dunia 2026 yang disebutnya lebih besar dari edisi sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya ia secara langsung menyinggung turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.

FILE PHOTO: U.S. President Donald Trump wears a ‘Trump Was Right About Everything!’ hat while holding the FIFA World Cup Trophy, as he makes an announcement on the 2026 FIFA World Cup, in the Oval Office at the White House in Washington, D.C., U.S., August 22, 2025. REUTERS/Jonathan Ernst/File Photo

Menariknya, di balik pujian sepintas itu, presiden Amerika Serikat tersebut justru nyaris tidak terlihat selama gelaran Piala Dunia berlangsung. Dari 22 hari pertandingan dan 82 laga, Trump tak pernah sekalipun hadir di stadion. Padahal, ia adalah tipe pemimpin yang haus akan sorotan. Mengapa tiba-tiba ia memilih bungkam dan menjauh? Pertanyaan ini mengarah pada satu kesimpulan: ada alasan tersembunyi di balik alasan Trump hindari Piala Dunia—sebuah strategi yang sengaja dirancang.

Strategi Diam di Tengah Keramaian Global

Trump dikenal dengan gaya politik “banjiri zona” (flood the zone), yaitu menciptakan kebisingan informasi tanpa henti. Ia menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian dengan pernyataan-pernyataan kontroversial. Namun, dalam kasus Piala Dunia 2026, ia memilih taktik sebaliknya: diam dan tidak menonjol. Ini bukan kebetulan. Pendahulunya, Vladimir Putin, melakukan hal serupa saat Rusia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018. Putin hadir di final dan beberapa laga strategis, tetapi secara umum ia menjaga profil rendah. Citra Rusia selama empat pekan itu tampak terbuka dan tertib—tidak ada represi keras yang terlihat. Inilah yang disebut sportswashing: menggunakan olahraga untuk membersihkan citra.

Mengapa Trump Mengikuti Jejak Putin?

Bagi Trump, menjadi pusat perhatian di Piala Dunia justru berisiko. Acara ini disorot miliaran pasang mata dari seluruh dunia. Setiap ucapannya bisa memicu kontroversi atau boikot. Dengan menghindari stadion, ia menghindari target. Ini adalah bentuk sportswashing versi AS: membiarkan turnamen berjalan tanpa gangguan dari retorika kerasnya. Faktanya, hingga sejauh ini tidak ada insiden besar seperti penangkapan imigran oleh ICE di sekitar kota tuan rumah—sesuatu yang sempat dikhawatirkan. Keheningan Trump menjadi semacam “gencatan senjata” informal.

Sepak Bola Tidak Tunduk pada Politik Trump

Ada alasan lain yang lebih personal. Trump adalah pribadi yang tipis kulit dan sensitif terhadap sorotan negatif. Ia tahu bahwa di stadion Piala Dunia, ia kemungkinan besar akan mendapat cemoohan. Buktinya, saat menghadiri final NBA di New York beberapa waktu lalu, ia langsung disambut ejekan. Belum lagi hubungan buruknya dengan tim nasional putri AS dan kenyataan bahwa tim putra AS sangat multikultural—mencerminkan keberagaman yang justru ingin ia batasi. Piala Dunia 2026 adalah perayaan diaspora, warga imigran, dan keberagaman. Semua itu bertentangan dengan narasi “America First” yang ia usung.

Ketakutan Tersembunyi di Balik Sikap Trump

Sepak bola adalah olahraga yang tidak bisa “dibeli” atau dikendalikan oleh satu figur politik sekalipun. Meskipun FIFA sarat dengan korporasi dan elitisme, permainan ini tetap punya semangat emosional yang independen. Tim-tim peserta, terutama Prancis yang menjadi salah satu favorit, adalah contoh sempurna perpaduan ras dan budaya yang sukses. Itulah gambaran yang tidak ingin didampingi Trump. Ia memilih menjauh karena, mungkin, ia sadar bahwa di depan panggung global ini, ia tidak akan menjadi pusat—melainkan hanya satu titik yang bisa diboikot.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Ketidakhadiran

Tidak ada yang benar-benar percaya bahwa sepak bola bisa menghentikan polarisasi politik atau otoritarianisme. Namun, ketidakhadiran Trump di Piala Dunia 2026 bukanlah sekadar ketidakpedulian. Ini adalah pengakuan diam-diam bahwa ada hal-hal yang lebih besar darinya—dan bahwa ia lebih memilih mengosongkan zona daripada menghadapi kenyataan yang tidak nyaman. Biarlah ia terus menjauh. Piala Dunia akan tetap bergulir, warna-warni dan penuh cerita, tanpa perlu kehadiran satu pun politisi yang merasa takut kehilangan kendali.