Review Premier League 2025-26 menghadirkan perpaduan pendapat dari sejumlah jurnalis sepak bola ternama. Musim ini menyuguhkan kejutan besar, termasuk keberhasilan Arsenal merebut gelar setelah penantian panjang, performa gemilang Bournemouth yang lolos ke Eropa, serta kebangkitan Sunderland yang menembus Liga Europa. Berikut adalah rangkuman opini para penulis The Guardian tentang pemain terbaik, manajer terbaik, hingga keluhan terbesar mereka atas musim yang penuh drama ini.
Pemain Terbaik
David Raya menjadi pilihan utama banyak penulis. Ed Aarons memuji kiper Arsenal yang meraih Golden Glove ketiga berturut-turut dengan 19 clean sheet, berperan penting membawa Arsenal juara. John Brewin lebih memilih Bruno Fernandes yang tampil memukau setelah Michael Carrick memberikan kebebasan, sementara Yara El‑Shaboury menjagokan Declan Rice sebagai motor serangan Arsenal. Ben Fisher mengapresiasi Antoine Semenyo yang mencetak 21 gol dan memenangkan FA Cup, sedangkan Barry Glendenning dan Andy Hunter juga memilih Raya dan Rice. Taha Hashim memuji Fernandes karena karismanya, David Hytner menyebutnya sebagai pemain paling menghibur. Jamie Jackson memilih Jérémy Doku yang konsisten menjadi ancaman, Jonathan Liew menganggap Fernandes luar biasa di tim yang kacau, dan Paul MacInnes kembali pada Rice. Billy Munday, Sachin Nakrani, Barney Ronay, Jacob Steinberg, Louise Taylor, serta Will Unwin semuanya memberikan suara untuk Raya, mengakui kontribusinya yang krusial di momen-momen penting. Satu suara berbeda datang dari Louise Taylor yang memilih Enzo Le Fée sebagai sosok visioner di lini tengah Sunderland.
Manajer Terbaik
Mayoritas penulis sepakat dengan Mikel Arteta yang berhasil mengalahkan Pep Guardiola dan membawa Arsenal juara. Ed Aarons, Yara El‑Shaboury, Taha Hashim, David Hytner, Jonathan Liew, Paul MacInnes, dan Barney Ronay memuji keteguhan Arteta di bawah tekanan. Namun, beberapa nama lain juga menonjol. John Brewin dan Billy Munday memilih Régis Le Bris yang membawa Sunderland ke Liga Europa setelah promosi. Ben Fisher, Barry Glendenning, dan Andy Hunter menjagokan Andoni Iraola yang menembus Eropa bersama Bournemouth. Jamie Jackson memuji Michael Carrick yang membangkitkan Manchester United, sementara Sachin Nakrani dan Barney Ronay (juga) mengapresiasi Daniel Farke yang menyelamatkan Leeds. Jacob Steinberg dan Louise Taylor juga memilih Le Bris. Will Unwin menjadi satu‑satunya yang memilih Keith Andrews karena transformasi Brentford setelah kehilangan Thomas Frank.
Gol Terbaik
Dominik Szoboszlai dinominasikan oleh Ed Aarons untuk tendangan bebas jarak jauh ke gawang Arsenal. Kaoru Mitoma mendapat pujian dari John Brewin dan Barry Glendenning untuk voli indahnya melawan Spurs. Yara El‑Shaboury memilih Harrison Reed yang mencetak gol spektakuler di menit akhir saat Fulham mengalahkan Liverpool. Emi Buendía versi Ben Fisher dan Barney Ronay adalah gol tim yang sempurna melawan Tottenham. Taha Hashim mengagumi overhead kick João Palhinha, sementara Andy Hunter memilih Harry Wilson dengan sentuhan luar kaki. David Hytner terkesan dengan gol Max Dowman yang dinanti-nantikan. Jamie Jackson memuji Rayan Cherki yang melewati seluruh pertahanan Arsenal. Jonathan Liew memilih Dominic Calvert‑Lewin yang melibatkan seluruh tim. Paul MacInnes dan Billy Munday mengingat gol cepat Semenyo melawan Liverpool. Sachin Nakrani dan Will Unwin juga menyebut Cherki. Louise Taylor memilih William Osula yang mencetak gol penentu melawan Manchester United. Satu suara unik datang dari Jacob Steinberg: voli Mitoma tetap yang terbaik.
Pertandingan Terbaik
Sejumlah laga sengit mewarnai musim ini. Ed Aarons dan Billy Munday menyebut laga Liverpool 1‑2 Manchester City dengan drama VAR di akhir. John Brewin lebih memilih kekacauan Tottenham vs Arsenal 2‑4. Yara El‑Shaboury dan Ben Fisher sepakat Manchester United 4‑4 Bournemouth sebagai pertandingan paling gila. Barry Glendenning dan Andy Hunter memilih Fulham 4‑5 Manchester City yang penuh kebangkitan. Taha Hashim suka Everton 3‑3 Manchester City, sementara David Hytner memilih Arsenal 2‑3 Manchester United. Jamie Jackson menjagokan Manchester City 2‑1 Arsenal sebagai laga kualitas tinggi. Jonathan Liew menganggap Crystal Palace 3‑3 Bournemouth paling mewakili Premier League. Paul MacInnes juga menyukai Fulham vs City. Sachin Nakrani menyoroti Leeds 3‑3 Liverpool yang dramatis. Barney Ronay memilih Manchester City 2‑1 Arsenal karena ketat secara teknis. Jacob Steinberg memilih West Ham 0‑1 Arsenal yang penuh ketegangan. Louise Taylor menobatkan Newcastle 4‑3 Leeds sebagai pertandingan terbaik karena serangan balik liar. Will Unwin memilih Manchester United 3‑2 Burnley yang berakhir dramatis.
Pembelian Terbaik
Granit Xhaka menjadi raja transfer musim ini. Ed Aarons, Barry Glendenning, Andy Hunter, David Hytner, Sachin Nakrani, Barney Ronay, Jacob Steinberg, dan Louise Taylor semuanya memuji kepemimpinan Xhaka di Sunderland yang membuat mereka lolos ke Eropa. John Brewin memilih Senne Lammens yang memperbaiki pertahanan Manchester United. Yara El‑Shaboury dan Will Unwin menjagokan Dominic Calvert‑Lewin yang gratis dan mencetak 14 gol untuk Leeds. Ben Fisher memilih Adrien Truffert dan Eli Junior Kroupi sebagai pembelian cerdas Bournemouth. Taha Hashim memilih Rayan Cherki yang kreatif, Jamie Jackson memilih Viktor Gyökeres sebagai dimensi baru Arsenal, sementara Jonathan Liew mengapresiasi João Pedro yang menyelamatkan Chelsea. Paul MacInnes memilih Kroupi, dan Billy Munday memilih Lammens.
Kegagalan Terbesar
Beberapa pemain dan klub menuai kritik tajam. Ed Aarons menunjuk Liam Delap yang hanya mencetak satu gol untuk Chelsea. John Brewing menyoroti kekacauan Chelsea di bawah Liam Rosenior. Yara El‑Shaboury mengkritik jendela transfer Newcastle yang buruk, terutama Yoane Wissa dan Anthony Elanga. Ben Fisher dan Barry Glendenning juga menyalahkan Wissa. Taha Hashim menyebut Chelsea sebagai klub paling mengecewakan. Andy Hunter menimpakan kegagalan pada Liverpool sebagai tim yang tidak tampil sesuai ekspektasi. David Hytner mengkritik Tottenham secara keseluruhan. Jamie Jackson menyalahkan Ruben Amorim yang tidak memainkan Kobbie Mainoo. Jonathan Liew menyebut seluruh skuad Liverpool, termasuk manajer dan staf. Paul MacInnes, Billy Munday, dan Barney Ronay mengecam Chelsea, Tottenham, dan West Ham. Sachin Nakrani menyoroti fan Manchester City yang melakukan aksi konyol. Jacob Steinberg menunjuk pemilik West Ham David Sullivan. Louise Taylor mengkritik Alexander Isak yang tidak memenuhi ekspektasi, dan Will Unwin menyebut Ange Postecoglou di Nottingham Forest sebagai kegagalan total.
Keluhan Terbesar
VAR tetap menjadi momok utama. Ed Aarons mengeluh tentang jadwal padat dan speaker besar di Selhurst Park. John Brewing menyoroti kelelahan Cole Palmer dan Phil Foden akibat turnamen. Yara El‑Shaboury mengkritik pemilik kaya yang tidak peduli, termasuk David Sullivan, FSG, dan Jim Ratcliffe. Ben Fisher menyoroti kebencian berlebih terhadap wasit. Barry Glendenning mengeluh tentang hukum handball yang makin rumit. Taha Hashim kecewa karena gelar tidak ditentukan di hari terakhir. Andy Hunter menyalahkan Ifab yang tidak memperbaiki aturan. David Hytner protes dengan gaya bertahan ala gulat. Jamie Jackson menginginkan transparansi dari manajer seperti Guardiola. Jonathan Liew mengecam miliarder dan rasisme Ratcliffe. Paul MacInnes, Sachin Nakrani, Barney Ronay, Jacob Steinberg, dan Will Unwin semuanya sepakat VAR telah merusak spontanitas sepak bola. Billy Munday juga menyoroti pengumuman wasit yang berlebihan. Louise Taylor mengeluhkan kick‑off yang tidak ramah penggemar dan hilangnya konsesi. Secara umum, keluhan terbesar adalah VAR dan dampaknya terhadap pengalaman menonton.
Review Premier League 2025-26 ini menunjukkan bahwa musim lalu penuh dengan prestasi individu, kejutan tim, dan kontroversi. Arsenal akhirnya kembali ke puncak, Sunderland tampil luar biasa, sementara Chelsea dan Tottenham harus merenung. Namun, satu hal yang disepakati semua penulis: sepak bola butuh perubahan, terutama dalam penggunaan teknologi dan perlindungan terhadap penggemar setia. Musim depan akan menjadi ujian apakah Premier League mampu memperbaiki diri atau justru semakin terasing dari akar rakyatnya.
