6 Gol Piala Dunia Terlupakan yang Wajib Kamu Tonton Ulang

Written by

in

,

Piala Dunia era awal sering diingat sebagai turnamen dengan lapangan becek, bola seberat batu, dan sepatu kulit yang kasar. Wajar jika gol-gol spektakuler yang kini kita anggap biasa saja jarang tercipta kala itu. Namun, di tengah keterbatasan tersebut, beberapa pemain berhasil menorehkan gol Piala Dunia terlupakan yang keindahannya tetap abadi. Artikel ini akan membawa kamu menyusuri enam gol indah dari masa ke masa yang mungkin sudah jarang dibicarakan, mulai dari tendangan gledek Lefter Kücükandonyadis hingga chip elegan Fabio Quagliarella. Yuk, kita bernostalgia!

Ivor Allchurch: Voli Spektakuler yang Membawa Wales ke Perempat Final (1958)

Ketika membahas tim Wales di Piala Dunia 1958, nama John Charles selalu menjadi sorotan utama. Namun, tim asuhan Jimmy Murphy memiliki ancaman lain: Ivor Allchurch dari Swansea. Setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Meksiko, Wales harus menjalani play-off melawan Hungaria. Di sinilah Allchurch menciptakan salah satu gol Piala Dunia terlupakan sepanjang sejarah Wales.

Di Stadion Råsunda, Stockholm, dengan penonton yang sangat sedikit—termasuk beberapa orang Hungaria berbaju hitam yang berkabung atas eksekusi pemimpin revolusioner Imre Nagy—Hungaria unggul lebih dulu melalui Lajos Tichy. Memasuki babak kedua, Charles dengan instingnya menyundul umpan Derrick Sullivan ke sisi kiri. Bola jatuh tepat di kaki Allchurch, yang langsung melepas voli diagonal nan dahsyat ke pojok atas gawang. Gol itu menyamakan kedudukan. Kemudian, kesalahan kiper Gyula Grosics memberi Terry Medwin gol kemenangan. Wales pun melaju ke perempat final melawan Brasil, meski harus kehilangan Charles yang cedera parah akibat tekel brutal pemain Hungaria.

Polandia: Gol Tim Terbaik Piala Dunia 1982

Grup 1 Piala Dunia 1982 di Spanyol identik dengan perjuangan Italia yang hanya meraih tiga hasil imbang. Namun Polandia juga mengalami nasib serupa: gagal mencetak gol dalam dua pertandingan pertama, termasuk hasil imbang 0-0 yang membosankan melawan Kamerun. Saat turun minum melawan Peru, skor masih 0-0. Manajer Antoni Piechniczek memberikan ultimatum: “Jika kita tidak menang, ini akan menjadi akhir petualangan saya dengan tim nasional—dan bagi sebagian besar dari kalian juga.” Zbigniew Boniek kemudian mengepalkan tangan dan berteriak, “Kita harus akhirnya mencetak gol ini!”

Seruan itu membakar semangat Polandia. Babak kedua mereka mendominasi, mencetak lima gol. Salah satunya lahir dari kerja sama tim yang brilian. Ketika gelandang Peru Julio César Uribe kehilangan bola di kotak penalti Polandia, Grzegorz Lato berlari ke depan. Boniek dengan cerdik membiarkan bola melewati kakinya kepada Andrzej Buncol. Buncol kemudian mengirim umpan ke Boniek yang berlari ke sisi kanan, dan Boniek membalasnya dengan backheel yang memukau. Buncol mengontrol, lalu melepaskan tembakan keras ke pojok atas gawang. Pertandingan berakhir 5-1, dan Polandia berubah menjadi tim yang berbeda.

Andreas Ogris: Lari 60 Yard yang Menghipnotis Amerika (1990)

Piala Dunia 1990 milik Austria adalah turnamen yang suram: permainan lamban dan pelanggaran kasar. Hanya sekali mereka menunjukkan sinar, tepatnya pada menit ke-50 pertandingan ketiga melawan Amerika Serikat. Setelah kalah dari Italia dan Cekoslowakia, Austria butuh kemenangan. Namun, mereka tertinggal 0-0 saat turun minum dan harus bermain dengan 10 orang setelah Peter Artner diusir.

Kemudian muncullah Andreas Ogris, pemain berambut merah. Saat tendangan sudut Amerika berhasil dihalau, Ogris bereaksi paling cepat. Ia menyepak bola melewati Jimmy Banks di area sendiri, lalu berlari sejauh 60 yard ke depan dengan kecepatan penuh. Ia meninggalkan Mike Windischmann di belakang, lalu dengan tenang mencungkil bola di atas kiper Tony Meola. Gol Piala Dunia terlupakan ini membuatnya berkomentar, “Saya tidak melihat satu pun pemain Amerika. Saya hanya berlari.” Sayang, Austria tetap tersingkir setelah hasil imbang lotre dengan Skotlandia, dan gol indah Ogris hanya menjadi catatan kaki.

Pierre Njanka: Diamond di Tengah Lumpur (1998)

Pertandingan Kamerun melawan Austria di Piala Dunia 1998 sebagian besar berlangsung kasar. Kamerun lebih banyak memukul lawan, dibantu wasit yang longgar. Namun saat mereka mau bermain indah, hasilnya luar biasa. Pada menit ke-77, bek kiri Pierre Njanka, yang saat itu bermain untuk Olympique Mvolyé, memulai lari panjang dari sisi kirinya. Ia melewati Dietmar Kühbauer dengan perubahan tempo mendadak. “Saya ingin mengoper, tetapi semua pemain dikawal. Jadi saya terus berlari,” kenang Njanka.

Wolfgang Feiersinger yang buru-buru menjatuhkan diri hanya menendang angin. Ketika Peter Schöttel berusaha menutup, Njanka memutar tubuh dengan cerdik, lalu melepaskan tembakan melengkung melintasi kiper Michael Konsel. Gol itu indah bagaikan permata di tengah kubangan lumpur. Sayang, Austria menyamakan kedudukan di menit akhir lewat Toni Polster. “Seandainya gol itu memberi kami kemenangan,” ujar Njanka, “tapi setidaknya ini kenangan indah.”

Fabio Quagliarella: Chip Terindah yang Sia-sia (2010)

Pertandingan Slovakia melawan Italia di Piala Dunia 2010 dianggap sebagai salah satu laga terbaik turnamen yang umumnya membosankan. Italia, juara bertahan, butuh setidaknya hasil imbang untuk lolos. Namun Slovakia unggul 2-0 di menit ke-73. Pelatih Marcello Lippi baru memasukkan Fabio Quagliarella pada babak kedua, dan pemain ini langsung menjadi motor serangan Italia.

Quagliarella menciptakan peluang demi peluang. Setelah Antonio Di Natale memperkecil kedudukan menjadi 2-1, Quagliarella mencetak gol yang dianulir karena offside. Ketika Slovakia mencetak gol ketiga pada menit ke-89, laga seolah berakhir. Namun Quagliarella tidak menyerah. Pada menit akhir, bola jatuh kepadanya 25 yard dari gawang. Ia menengadahkan kepala, lalu melepaskan chip yang sempurna melambung di atas kiper Jan Mucha—gol yang sangat indah. Namun, Simone Pepe gagal memanfaatkan peluang terakhir. Italia tersingkir, dan Quagliarella menangis di lapangan. Gol Piala Dunia terlupakan ini seharusnya menjadikannya pahlawan, tapi malah tenggelam dalam ingatan.

Yacine Brahimi: Empat Gol Bersejarah Aljazair (2014)

Pertandingan Aljazair melawan Korea Selatan di Porto Alegre pada Piala Dunia 2014 mungkin tidak terlalu dinanti, tetapi berubah menjadi pertarungan seru. Aljazair unggul 3-0 di babak pertama berkat kegagalan Korea menghadapi bola-bola atas. Son Heung-min memperkecil ketertinggalan di awal babak kedua, namun Aljazair mengakhiri perlawanan dengan gol tim yang brilian.

Pada menit ke-62, Aljazair merangkai delapan operan indah. Yacine Brahimi, yang tampil cemerlang sepanjang pertandingan, menjadi aktor utama. Ia menusuk dari sisi kiri, melakukan give-and-go dengan Sofiane Feghouli, lalu menggeser bola di bawah kiper Jung Sung-ryong. Gol itu membuat Aljazair menjadi tim Afrika pertama yang mencetak empat gol dalam satu pertandingan Piala Dunia. Brahimi pun mendapatkan tawaran pindah ke Porto, tempat ia bersinar selama beberapa musim. Gol Piala Dunia terlupakan ini adalah bukti bahwa keindahan sepak bola tidak pernah lekang oleh waktu.

Kesimpulan

Keenam gol di atas hanyalah segelintir contoh dari banyak momen magis yang sering terlupakan dalam sejarah Piala Dunia. Meski tidak setenar gol Maradona atau Zidane, setiap tendangan, voli, atau lari spektakuler itu tetap berharga. Mereka mengingatkan kita bahwa sepak bola selalu punya ruang untuk keajaiban, bahkan di tengah keterbatasan. Jadi, jangan ragu untuk menyempatkan waktu menonton ulang aksi-aksi tersebut—karena seperti kata seorang kolumnis, “kamu tidak boleh melewatkan pertandingan.”